Jumat, 08 Agustus 2014

Dibalik Monitor





Aku telah memilih kamu, mengharapkanmu bahkan mencintaimu sejak setahun yang lalu. Aku tak peduli tentang kamu yang baru saja mengenalku, yang penting saat ini kamulah yang sebenarnya. Aku tak risau lagi untuk berharap dan mencarimu, yang aku risaukan jika kamu tidak seperti sebelum kamu.

“malam bang?” kata Wilda menyapaku via YahooMail.
“iya, malam juga” balasku.
Cengkrama yang begitu panjang kala malam itu, kami membahas tentang bagaimana bisa berteman dijejaringan sosial ini, mengapa kami harus berceritra, dan bahkan mengapa kami harus membahas ini. Hingga ujung dari cengkrama itu adalah nomor handphone.
Setelah aku mengenal Wilda, rasanya begitu banyak motifasi yang aku dapatkan darinya, baik itu pendidikan, hobby, kesukaan ataupun wawasan. Rasa kenyamanan saat bersama Wilda itu semakin hari semakin dalam ketika dia mengatakan sayang kepadaku. Sedikit terkejut akan perkataanya tetapi akupun tak bisa membohongi perasaanku jikalau memang sebenarnya aku menyangi dia.
Hubungan ini berjalan apa adanya sebagaimana air mengalir mengikuti arusnya. Tetapi disuatu malam yang remang tanpa bintang dan bulan aku ingin mencoba untuk mengubah arus aliran air ini. “emm, Wilda, one question”
“what is that? Silakan”
“kita ini apa?”
“maksudnya?”
“kita ini teman, atau pacar, atau apa?”
“aku tidak tahu”
“kenapa?”
“aku tidak bisa LDR”
“terus?”
Pertanyaan itu sampai saat ini tidakpun diakhiri dengan jawaban yang kuharapkan. Walapun demikian, komunikasi kami tetap saja lancar sebagaimana biasanya, bercanda, mengeluh, dan tak luput dari kata sayang. Membiarkan semua seperti biasa, mencari yang lebih darinya, walau sampai saat ini masih saja dia dihatiku.
***
“sudah setahun yah, kita sama-sama” kataku mengingatkan.
“iya”
Setahun menjalani hubungan tanpa status dengan jarak yang begitu jauh serasa ngak ada problem dengan dirinya. Aku juga tidak tahu akankah dia mengharapkan aku sebagaimana aku disini. Mungkinkah dia sudah punya orang yang lebih special dibandingkan aku yang ngak bias beri dia apa-apa. Hanya bisa memberi kata saying. Itu takan puas rasanya. Akupun juga akan mengertikannya jika memang punya yang lain.
Kini begitu banyak ketidaknyambungan hubungan  kami saat ini yang membuat jarak kami semakin menjauh, sejak aku mengingatkan jalannya hubungan ini rasanya begitu banyak keanehan, entah itu apa akupun tidak ingin mengetahuinya. Tetapi rasa penasaran ini terus menerus timbul seakan-akan kurasa saat ini tidak ada lagi keindahan sikap ataupun tingkahnya kepadaku.
Aku terkejut ketika hendak log in ke YahooMail, melihat account yang beda dengan gambar yang sama seperti digunakan pada account Wilda. Kumulai mencari tahu akan hal itu membuka chat bersama account dengan nama tampilan Amhy.
“hallo” sapaku.
“hallo juga” jawabnya
Begitu banyak basah basih yang terlontar dariku, hingga akhirnya akupun mulai membahas tentang gerangan gambar yang sama dengan account Wilda. Sedikit shoc mendengar kenyataan yang ada saat ini. Pemanipulasian gambar, pembohongan bahkan pembajakan gambar yang Wilda lakukan sungguh sangat mengecewakanku. Bibir ini tak mampu lagi untuk berkata, bahkan sepatah katapun tak mampu lagi kuucapkan.
“boleh tanya?” untaiku.
“yah, boleh” balasnya.
“Wilda itu siapa sih? Kenapa fotonya sama?”
“dia itu orang yang membajak fotoku, brengsek dia”
“oh begitu, memangnya dia itu dari mana?”
“aku tidak tahu”
Kumulai lagi membuka berbagai pertanyaan yang bisa memberi peluang agar dekat dengan dia. Hingga akhirnya hubungan inipun dimulai dengan orang yang sudah lama kukenal tetapi dengan jiwa/raga yang berbeda. Kumerasa bodoh dengan kisah ini, terlanjur mencintai dengan melihat gambar saja.  Sungguh senangnya diri ini jika bersama dengan dia seorang Wilda tetapi semua hanya kepalsuan yang dia berikan kepadaku.
Mulai lagi dengan persoalan yang begitu rumit ketika kekasihku bertanya padaku akan hubunganku yang saat ini sedang berlangsung dengannya. Yah, memang, aku pasti akan menjalin hubungan dengan orang lain. aku, bahkan banyak orang lain diluar sana yang ingin ada orang memerhatikan dia dengan hubungan yang jelas. Inilah masalah yang membuatku harus memilih antara dia dan dia. Akupun bingung apa yang harus kuperbuat saat ini. Serasa takan pernah adil jika orang yang kucintai takan pernah jadi miliku sedang orang yang saat ini menyangiku dengan setulus hatinya malah tak bisa kucintai.
“kenapa tidak ada kabar?” kata Rosa kalem dengan nada suaranya dibalik telephon.
“hehehe”
“aku tahu, pasti kamu sibuk dengan TTM kamu yang di Surabaya”
Tuttt,, tutt,, tutt,, aku langsung mematikan telphonnya begitu saja. Salah ataupun benar, aku harus memilih, aku tidak ingin minyiksa perasaan orang lain hanya karena untuk menyangiku saja. Please, forgive me. Aku punya sedikit pesan buat kamu. Hati itu untuk dipilih bukan untuk memilih. Dan carilah orang yang memberi kamu segalanya tanpa harus kamu minta. Dan itu tidak dihubungan ini. Aku melepas kamu agar diantara kita tidak ada yang merasa tersakiti. Ucapan terahir yang kukirim via SMS.
(Bingung Pilih Yang Mana) nama tampilan YahooMail yang baru saja kuganti. Senada berbunyi dengan singkat. Tanda pesan masuk.
“kenapa bingung” tanya Amhy
“hehehe” balasku kalem.
“pilih aku aja”
“Aku telah memilih kamu, mengharapkanmu bahkan mencintaimu sejak setahun yang lalu”
“masah sih?”
“Aku tak peduli tentang kamu yang baru saja mengenalku, yang penting saat ini kamulah yang sebenarnya”
“iya, kamu tidak takut akan mengulang lagi?”
“Aku tak risau lagi untuk berharap dan mencarimu, yang aku risaukan jika kamu tidak seperti sebelum kamu”
“Dit, ada satu yang pengen kuberitahukan pada kamu”
“apa itu?”
“sebenarnya nama asli saya adalah Irma, bukan Amhy”
“oh, begitu
Keterbukaan ini membuat aku semakin percaya dan yakin kepadanya yang telah menjadi Irma. Aku takan pernah tahu kedepan untuk perjalanan hubungan ini bagaimana. Mungkin akan jadi rahasia, percintaan, atau malah akan jadi sebuah memoar dalam hidup.
***
Aku ingin berbagi kehidupanku kepada kamu, buku ini berisih ceritra tentang pencarian cinta. Didalamnya tidak ada akhir dari perjalananku untuk mendapatkan cinta. Untuk saat ini, kamulah salah satunya orang yang mampu menjawabnya.
Selang waktu yang begitu panjang, kuberikan sebuah buku yang kubuat dengan tanganku sendiri, agar Irma dapat membaca dan memahami perasaan ini. Aku telah terlanjur larut dalam cinta, telah begitu kokoh bagai intan yang terbentuk secara euhedral. Tak mampu lagi tererosi dan menjadi sedimen. Semakin panas dan terkompreskan seperti metamorf dan akan kembali menjadi magma, dimana disitulah kita akan disatukan dan kembali mendingin untuk menjadi beku.
Ich Liebben Du...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar