Saat hendak berjalan pulang ke
rumah, handphoneku tiba-tiba menyayikan lagu You Belong With Me dari
Taylor Swift, yang berarti tanda panggilan masuk. Ketika kuambil
handphoneku dan kulihat pemanggilnya, ternyata hanya seorang teman kampus. “yah,
Fahri. Ada apa?” tanyaku saat mengangkat telponnya.
“David bisakah kamu datang kerumah Zahra” untainya
dibalik telpon
“memangnya ada apa?
“kamu datanglah saja”
“baiklah, tunggu aku sekitar 15 menit lagi”
Jadi, Zahra itu adalah teman kampus
juga, dia adalah orang yang selalu menjadi penyemangatku untuk masuk kampus dan
belajar. Baiklah kata intinya, aku menyukainya. Tapi entah dengan perasaannya,
apakah dia juga merasakan hal yang sama ataukah mungkin dia hanya mengganggap
aku sebatas teman saja. Walaupun saat ini aku adalah kekasih orang lain, tapi
hati dan perasaanku hanyalah untuknya, dan sekarang kenapa aku harus pacaran
dengan gadis lain, alasannya simple saja, yah karena aku tak ingin bila
saudaraku Fahri terluka hatinya karena ia juga menyyukai Zahra dan
mengakibatkan semua ini akan jadi masalah dalam persahabatan kami bertiga
selama tiga tahun lamanya. Aku juga tidak tega memperlihatkan kemesraanku
bersama gadis lain didepan Zahra, aku hanya ingin dia mengerti betapa kita ini
hanyalah sebatas sahabat saja. Dan aku mau persahabatan ini takan pernah
berubah, walaupun perasaan yang kugantung itu begitu tinggi.
Sampailah langkahku tepat didepan
rumah Zahra kurang lebih 13 menit dari tempat asalku, aku menoleh kesana kemari
dan memerhatikan orang-orang yang semakin detik semakin bertambah untuk masuk
kedalam rumah tersebut. Aku penasaran dengan keadaan ini, mengapa begitu banyak
orang dan mengapa ada kain putih yang melambai-lambai didepan rumah Zahra?
Siapa gerangan yang telah dipanggil pada Yang Maha Kuasa? Perasaanku saat itu
berubah menjadi buruk. Perlahan-lahan juga aku ikut masuk dalam rumah Zahra, Fahri lalu memegang tanganku dan
mengantarkanku kedepan mayat yang telah tertutupi kain putih. Tak heran kumelihat
Fahri mengeluarkan air matanya. Ini adalah pertama kalinya aku melihat Fahri
menangis. Timbulah banyak pertanyaan dalam pikiranku. “Fahri, dimana Zahra ?“
tanyaku. Fahri masih saja mengeluarkan air matanya dan tak menjawab
pertanyaanku. “Fahri?. Dimana Zahra?” Fahri semakin menangis dan menangis
sambil menunjuk arah mayat yang berada didepanku. “itu adalah Zahra, Vid”.
Masih merasa belum percaya dengan semua ini, kubuka
kain putih bagian kepala hingga terlihatlah jelas muka dari seorang wanita yang
begitu baik dalam hidupku, inspirasi dalam duniaku bahkan penyemangat dalam
keburukanku. Kini ia telah pergi meninggalkan nama dan kenangan yang begitu
indah. Mengapa Tuhan begitu cepat memanggilnya untuk kembali pulang, sedang
yang sebenarnya dalam hatiku masih saja mengharapkan. Tuhan, mengapa harus
orang yang begitu kusayangi engkau panggil untuk pulang hari ini? Apakah aku
begitu banyak dosa padanya dan kepada-MU hingga akhirrnya Engkau merenggut
semua apa yang ada pada diriku.
Memegang foto Zahra menuju
pemakaman adalah hal yang tidak akan pernah bisa mengembalikan air mataku yang
sudah jatuh dan membasai pipi ini, aku adalah manusia paling rugi yang tidak pernah bisa mengungkapkan
perasaan ini pada orang yang aku saying dan cintai. Apakah ini karmamu Tuhan?
Sebab telah kusia-siakan orang yang begitu kusayangi? Atau mungkin aku tidak
pantaskah bilamana saya bersama dengan dirinya?
***
“Zahra nitip buku ini kepada saya untuk kamu” untai
Fahri
“ini buku apa”
“katanya ini adalah buku diarynya dia, dan satu
lagi, katanya bacalah pada saat sebelum kamu tidur”
“baiklah”
Selepas pulang dari rumah Zahra,
aku langsung menuju kamar dan meletakan buku itu keatas meja sambil
memerhatikan bentuknya. Kubuka sampul depannya yang memperlihatkan lembaran
pertama dengan sebuah tulisan “RASA INI”.
Setelah itu kubuka lagi lembaran kedua dan lalu membacanya.
***
Saat
pertama kali melihatnya, aku begitu ingin memeluknya, entah mengapa begitu
nyaman kurasa tiap kali kuberada disampingnya. Oh tuhan, bantulah aku menjawab
pertanyaan hidup ini. Hari-hariku takan pernah baik jika tak melihat dia, dia
adalah inspirasi dalam hidupku yang akan selalu membuatku tersenyum dan
tertawa.
Aurahnya
begitu terlihat dalam dirinya, yang semakin memukat hatiku. Tidakkah dia tahu
bahwa aku selalu menantinya? Tidakah dia tahu bahwa aku ingin menjadi miliknya.
Aku selalu merasakan cemburu apabila ia dekat dengan wanita lain, mungkin
inilah tanda rasa sayangku padanya.
Hal
seperti ini adalah hal yang sudah lumrah dalam kisah percintaan. Baiklah, saat
ini biarlah aku yang akan memulai lebih dulu. Memberitahukan pada dirinya
tentang perasaanku yang sebenarnya, walaupun sebenarnya dia itu adalah sahabat
dekatku, tetapi aku ingin ia tahu perasaan ini.
Siang
itu tak ada dosen yang masuk, tindakan saya sudah begitu bulat untuk
mengungkapkan rasa ini padanya, aku harap dia akan merasakan hal yang serupa
denganku. Tetapi ternyata Tuhan berkata lain, ketika hendak akan kuhampiri dia
yang sedang duduk ditenganh-tengah taman yang penuh dengan ribuan bunga yang
berwarna-warni, kulihat dari perantara tembok ada seorang gadis yang juga
begitu cantik menghampirinya. Hatiku pun bertanya-tanya akan gadis tersebut,
“siapakah dia yang hendak mendekatinya?”. Oh Tuhan, ternyata gadis tersebut adalah
gadis yang selama ini mengisi hatinya yang kukira hatinya itu kosong. Betapa
begitu sakitnya hatiku, aku takan bisa menyalahkannya sebab ini adalah kesalahanku
semata. Aku pikir dia menyimpan rasa yang sama denganku. Ternyata tidak,
prasangka baik itu hilang begitu saja. Tetapi kehancuran hati ini tetap masih
tergores didalam lubuk hati yang paling dalam.
Hari-hariku
saat ini tak seperti hari-hari yang biasa kujalani lagi, setelah mengetahui
bahwa dia telah memiliki seorang teman wanita yang begitu special. Berbicara
kepadanya pun begitu sungkan dan terbatah-batah, entah mengapa ini terjadi. Ya
Tuhan, mengapa engkau membiarkanku jatuh cinta padanya? Mengapa engkau
membiarkanku untuk menyanginya, sedang ia tak memiliki perasaan yang sama
denganku. Begitu kecewanya hati ini padanya. Hal yang paling menyakitkan lagi
ketika dia menyuruhku untuk datang kerumahnya, saat itu aku berpikir. Mungkin
saja kali ini dia telah tak bersama gadis itu lagi dan akan mengungkapkan
perasaannya padaku. Yah, kembalilah aku dalam harapan yang salah. Ketika
sesampainya aku dirumahnya, aku terkejut melihat sesuatu yang tak harus
dilakukan dalam situasi seperti ini. Apakah dia memang sengaja membuatku
semakin terluka, mencium bibir gadis dihadapanku,dan dia hhanya tersenyum
melihatku.
Saat
itu tak ada lagi tempatku untuk mencurahkan segala emosiku, sungguh dia begitu
keterlaluan. Aku begitu benci padanya, tetapi mengap ketika melihat wajahnya,
amarah itu tiba-tiba hilang begitu saja dengan sendirinya. Hatiku kembali luluh
ketika ia melontarkan sebuah kalimat-kalimat yang biasa terjadi pada seorang
pacar ataupun saudara dan sahabat. Yah, kata “Sayang” itu dapat menghancurkan
amarah yang mengalir dalam tubuhku ini. Seringkali kutersakiti olehnya tetapi
sering kali juga kuberikan maaf dan selalu mengosongkan hatiku untuknya.
Aku
hanya ingin berdo’a pada Tuhan sang pencipta akan kehendaknya yang kan selalu
memberkati rasa ini padanya.
Hidupku
takan lama lagi, tetapi sampai saat ini aku belum bisa mengungkapkan rasa ini
padanya. Kuharap akan ada perantara lain yang kan mengungkapkan rasa ini
padanya. Biarlah rasa ini kusimpan dan biar aku, buku ini dan Tuhan yang tahu
betapa aku mencintainya. DAVID.
Zahra
***
Begitulah goresaan tinta dari
perasaan Zahra padaku. Aku juga tak tahu ternyata rasa kita sama. Aku minta
maaf jika pernah menyakiti dan mulukai perasaanmu.
Zahra, tidakah kau tahu juga perasaan ini padamu,
kita memiliki rasa yang sama. Aku juga menyangimu bahkan lebih dari siapapun.
Hanya saja perasaanku ini sengaja kupendam demi persahabatan kita bertiga. Aku
menjaga persaudaraanku pada Fahri juga, ia pernah berceritra tentang
perasaannya padamu hingga akhirnya aku memutuskan untuk berhenti mencintaimu.
Itulah sebabnya aku mencari gadis lain. Tapi ada satu yang kamu harus tahu.
Kamu adalah wanita yang terbaik dalam hidupku.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar