Jumat, 08 Agustus 2014

Rasa Ini



Saat hendak berjalan pulang ke rumah, handphoneku tiba-tiba menyayikan lagu You Belong With Me dari Taylor Swift, yang berarti tanda panggilan masuk. Ketika kuambil handphoneku dan kulihat pemanggilnya, ternyata hanya seorang teman kampus. “yah, Fahri. Ada apa?” tanyaku saat mengangkat telponnya.
“David bisakah kamu datang kerumah Zahra” untainya dibalik telpon
“memangnya ada apa?
“kamu datanglah saja”
“baiklah, tunggu aku sekitar 15 menit lagi”
Jadi, Zahra itu adalah teman kampus juga, dia adalah orang yang selalu menjadi penyemangatku untuk masuk kampus dan belajar. Baiklah kata intinya, aku menyukainya. Tapi entah dengan perasaannya, apakah dia juga merasakan hal yang sama ataukah mungkin dia hanya mengganggap aku sebatas teman saja. Walaupun saat ini aku adalah kekasih orang lain, tapi hati dan perasaanku hanyalah untuknya, dan sekarang kenapa aku harus pacaran dengan gadis lain, alasannya simple saja, yah karena aku tak ingin bila saudaraku Fahri terluka hatinya karena ia juga menyyukai Zahra dan mengakibatkan semua ini akan jadi masalah dalam persahabatan kami bertiga selama tiga tahun lamanya. Aku juga tidak tega memperlihatkan kemesraanku bersama gadis lain didepan Zahra, aku hanya ingin dia mengerti betapa kita ini hanyalah sebatas sahabat saja. Dan aku mau persahabatan ini takan pernah berubah, walaupun perasaan yang kugantung itu begitu tinggi.
Sampailah langkahku tepat didepan rumah Zahra kurang lebih 13 menit dari tempat asalku, aku menoleh kesana kemari dan memerhatikan orang-orang yang semakin detik semakin bertambah untuk masuk kedalam rumah tersebut. Aku penasaran dengan keadaan ini, mengapa begitu banyak orang dan mengapa ada kain putih yang melambai-lambai didepan rumah Zahra? Siapa gerangan yang telah dipanggil pada Yang Maha Kuasa? Perasaanku saat itu berubah menjadi buruk. Perlahan-lahan juga aku ikut masuk dalam  rumah Zahra, Fahri lalu memegang tanganku dan mengantarkanku kedepan mayat yang telah tertutupi kain putih. Tak heran kumelihat Fahri mengeluarkan air matanya. Ini adalah pertama kalinya aku melihat Fahri menangis. Timbulah banyak pertanyaan dalam pikiranku. “Fahri, dimana Zahra ?“ tanyaku. Fahri masih saja mengeluarkan air matanya dan tak menjawab pertanyaanku. “Fahri?. Dimana Zahra?” Fahri semakin menangis dan menangis sambil menunjuk arah mayat yang berada didepanku. “itu adalah Zahra, Vid”.
Masih merasa belum percaya dengan semua ini, kubuka kain putih bagian kepala hingga terlihatlah jelas muka dari seorang wanita yang begitu baik dalam hidupku, inspirasi dalam duniaku bahkan penyemangat dalam keburukanku. Kini ia telah pergi meninggalkan nama dan kenangan yang begitu indah. Mengapa Tuhan begitu cepat memanggilnya untuk kembali pulang, sedang yang sebenarnya dalam hatiku masih saja mengharapkan. Tuhan, mengapa harus orang yang begitu kusayangi engkau panggil untuk pulang hari ini? Apakah aku begitu banyak dosa padanya dan kepada-MU hingga akhirrnya Engkau merenggut semua apa yang ada pada diriku.
Memegang foto Zahra menuju pemakaman adalah hal yang tidak akan pernah bisa mengembalikan air mataku yang sudah jatuh dan membasai pipi ini, aku adalah manusia paling  rugi yang tidak pernah bisa mengungkapkan perasaan ini pada orang yang aku saying dan cintai. Apakah ini karmamu Tuhan? Sebab telah kusia-siakan orang yang begitu kusayangi? Atau mungkin aku tidak pantaskah bilamana saya bersama dengan dirinya?

***

“Zahra nitip buku ini kepada saya untuk kamu” untai Fahri
“ini buku apa”
“katanya ini adalah buku diarynya dia, dan satu lagi, katanya bacalah pada saat sebelum kamu tidur”
“baiklah”

Selepas pulang dari rumah Zahra, aku langsung menuju kamar dan meletakan buku itu keatas meja sambil memerhatikan bentuknya. Kubuka sampul depannya yang memperlihatkan lembaran pertama dengan sebuah tulisan “RASA INI”. Setelah itu kubuka lagi lembaran kedua dan lalu membacanya.

***

Saat pertama kali melihatnya, aku begitu ingin memeluknya, entah mengapa begitu nyaman kurasa tiap kali kuberada disampingnya. Oh tuhan, bantulah aku menjawab pertanyaan hidup ini. Hari-hariku takan pernah baik jika tak melihat dia, dia adalah inspirasi dalam hidupku yang akan selalu membuatku tersenyum dan tertawa.
Aurahnya begitu terlihat dalam dirinya, yang semakin memukat hatiku. Tidakkah dia tahu bahwa aku selalu menantinya? Tidakah dia tahu bahwa aku ingin menjadi miliknya. Aku selalu merasakan cemburu apabila ia dekat dengan wanita lain, mungkin inilah tanda rasa sayangku padanya.
Hal seperti ini adalah hal yang sudah lumrah dalam kisah percintaan. Baiklah, saat ini biarlah aku yang akan memulai lebih dulu. Memberitahukan pada dirinya tentang perasaanku yang sebenarnya, walaupun sebenarnya dia itu adalah sahabat dekatku, tetapi aku ingin ia tahu perasaan ini.
Siang itu tak ada dosen yang masuk, tindakan saya sudah begitu bulat untuk mengungkapkan rasa ini padanya, aku harap dia akan merasakan hal yang serupa denganku. Tetapi ternyata Tuhan berkata lain, ketika hendak akan kuhampiri dia yang sedang duduk ditenganh-tengah taman yang penuh dengan ribuan bunga yang berwarna-warni, kulihat dari perantara tembok ada seorang gadis yang juga begitu cantik menghampirinya. Hatiku pun bertanya-tanya akan gadis tersebut, “siapakah dia yang hendak mendekatinya?”. Oh Tuhan, ternyata gadis tersebut adalah gadis yang selama ini mengisi hatinya yang kukira hatinya itu kosong. Betapa begitu sakitnya hatiku, aku takan bisa menyalahkannya sebab ini adalah kesalahanku semata. Aku pikir dia menyimpan rasa yang sama denganku. Ternyata tidak, prasangka baik itu hilang begitu saja. Tetapi kehancuran hati ini tetap masih tergores didalam lubuk hati yang paling dalam.
Hari-hariku saat ini tak seperti hari-hari yang biasa kujalani lagi, setelah mengetahui bahwa dia telah memiliki seorang teman wanita yang begitu special. Berbicara kepadanya pun begitu sungkan dan terbatah-batah, entah mengapa ini terjadi. Ya Tuhan, mengapa engkau membiarkanku jatuh cinta padanya? Mengapa engkau membiarkanku untuk menyanginya, sedang ia tak memiliki perasaan yang sama denganku. Begitu kecewanya hati ini padanya. Hal yang paling menyakitkan lagi ketika dia menyuruhku untuk datang kerumahnya, saat itu aku berpikir. Mungkin saja kali ini dia telah tak bersama gadis itu lagi dan akan mengungkapkan perasaannya padaku. Yah, kembalilah aku dalam harapan yang salah. Ketika sesampainya aku dirumahnya, aku terkejut melihat sesuatu yang tak harus dilakukan dalam situasi seperti ini. Apakah dia memang sengaja membuatku semakin terluka, mencium bibir gadis dihadapanku,dan dia hhanya tersenyum melihatku.
Saat itu tak ada lagi tempatku untuk mencurahkan segala emosiku, sungguh dia begitu keterlaluan. Aku begitu benci padanya, tetapi mengap ketika melihat wajahnya, amarah itu tiba-tiba hilang begitu saja dengan sendirinya. Hatiku kembali luluh ketika ia melontarkan sebuah kalimat-kalimat yang biasa terjadi pada seorang pacar ataupun saudara dan sahabat. Yah, kata “Sayang” itu dapat menghancurkan amarah yang mengalir dalam tubuhku ini. Seringkali kutersakiti olehnya tetapi sering kali juga kuberikan maaf dan selalu mengosongkan hatiku untuknya.
Aku hanya ingin berdo’a pada Tuhan sang pencipta akan kehendaknya yang kan selalu memberkati rasa ini padanya.
Hidupku takan lama lagi, tetapi sampai saat ini aku belum bisa mengungkapkan rasa ini padanya. Kuharap akan ada perantara lain yang kan mengungkapkan rasa ini padanya. Biarlah rasa ini kusimpan dan biar aku, buku ini dan Tuhan yang tahu betapa aku mencintainya. DAVID.

Zahra


***

Begitulah goresaan tinta dari perasaan Zahra padaku. Aku juga tak tahu ternyata rasa kita sama. Aku minta maaf jika pernah menyakiti dan mulukai perasaanmu.
Zahra, tidakah kau tahu juga perasaan ini padamu, kita memiliki rasa yang sama. Aku juga menyangimu bahkan lebih dari siapapun. Hanya saja perasaanku ini sengaja kupendam demi persahabatan kita bertiga. Aku menjaga persaudaraanku pada Fahri juga, ia pernah berceritra tentang perasaannya padamu hingga akhirnya aku memutuskan untuk berhenti mencintaimu. Itulah sebabnya aku mencari gadis lain. Tapi ada satu yang kamu harus tahu. Kamu adalah wanita yang terbaik dalam hidupku.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar